Senjakala “Anti-Mainstream” & Kejenuhan Manusia

Resah Gak Sih - Haikal MF
7 min readMar 16, 2022
“We all want to change the world” -The Beatles

Klaim “anti-mainstream” lumayan familiar di telinga kita hari ini. Seringnya kita mendengar klaim tersebut dari mulut-mulut mereka yang merasa diri terlalu eksklusif dengan hobi atau kesukaannya. Klaim ini biasanya ditekankan untuk memberi gambaran pada orang lain bahwa “saya adalah orang spesial yang berbeda dari mereka”. Imbuhan dari itu, tentu saja, klaim ini bisa memunculkan persepsi keren bagi siapa saja yang mendapat pujian dan perhatian karena berani tampil beda.

Hal ini sedikit mengingatkan saya pada sebuah fenomena kaum Hippie di tahun 60-an dan 70-an. Meski saya bukanlah generasi yang lahir serta hidup di masa itu, tapi ada korelasi menarik dan mirip antara kaum Hippie dan klaim “anti-mainstream”. Berdasarkan catatan Britannica, kaum Hippie –biasa juga dieja Hippy– adalah sebuah gerakan tandingan yang menolak dan melawan budaya mainstream Amerika. Fenomena ini lahir dari kampus-kampus Amerika, yang kemudian menyebar sampai Kanada dan Inggris.

Ahli demografi menilai kaum Hippie adalah sekelompok baby-boomer kulit putih berusia 20-an yang merasa terasing dari masyarakat menengah yang didominasi oleh materialisme dan hasrat keinginan tinggi. Kaum Hippie merasa kehidupan mainstream terlalu membosankan dan mereka lebih membanggakan gaya hidup khas mereka sendiri.

Di sinilah saya menilai ada korelasi yang mirip. Sikap eksklusif adalah sikap yang paling dominan dari kaum Hippie, dan begitu juga orang-orang yang mengklaim dirinya “anti-mainstream”. Korelasinya pun semakin lekat ketika kita coba melihat motivasi dari kedua fenomena ini yang memang sangat ingin keluar dari mainstream yang sangat membosankan.

Manusia itu mudah jenuh dan bosan!

Setuju atau tidak, sifat dasar manusia memang begitu. Mereka mudah jenuh dan bosan dengan keadaan, sehingga mereka akan mencari alternatif lain yang mampu memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi hidupnya. Tidak mengherankan mengapa hari ini sebagian manusia “modern” juga menerapkan hal yang serupa.

Perilaku, pemikiran, perasaan, peraturan dan kecenderungan manusia hari ini yang semakin “aneh”, itu juga buah dari aplikasi sifat dasar manusia yang memang mudah jenuh dan bosan. Bukankah wajar kalau banyak orang akan terus mengklaim dan mencoba jadi “anti-mainstream” di tengah keadaan semacam itu?

Gambaran mudahnya, kita bisa mengamati keadaan barusan dari perkembangan panggung-panggung hiburan (entertainment) yang masif kita lihat di berbagai platform. Frekuensinya begitu cepat untuk berubah, dan setiap saat, ada saja hal yang –seolah-olah– baru terus dipertontonkan ke publik. Misalnya seperti, memamerkan kekayaan, membandingkan nasib, menjual kebohongan, memasarkan narasi lucu dan nyeleneh, atau menjadi sosok penghibur dengan mengeksploitasi keindahan fisiknya.

Silahkan pilih, mau ikut arus atau melawannya?

Semua akhirnya digiring untuk menunjukkan eksistensi demi dapat mengikuti arus perkembangan panggung hiburan yang begitu cepat berubah. Sadar atau tidak, perubahan ini lahir dari kejenuhan dan kebosanan manusia yang terus menerus menuntut hal baru. Sehingga jangan heran kenapa banyak permintaan dan saran dari sub-masyarakat tertentu –sebut saja Netizen– sering muncul di berbagai kolom komentar.

Bagi yang tidak mau ikut arus, maka mereka akan memilih untuk melawannya. Ya apalagi caranya selain dengan klaim “anti-mainstream” atau mempertontonkan sesuatu yang berbeda. Ketika kebanyakan orang memilih jalan A, mereka lebih memilih jalan B. Simpelnya mereka yang jenuh dan bosan dengan situasi yang ada, pada akhirnya akan terus mencari diferensiasi demi tetap eksis lewat jalan kenyamanan dan ketenangannya sendiri.

Kaum Hippie pernah melakukannya, dan sekarang, itu dilakukan oleh mereka yang ingin menjadi “anti-mainstream”. Meski zaman jauh berbeda tapi ternyata pola yang terbentuk tetaplah sama. Bahkan motivasinya, sekali lagi, lahir dari hal yang sama. Yaitu eksklusifitas untuk keluar dari mainstream yang itu-itu saja.

Apapun yang terjadi, pasti ada sebabnya.

Bagi saya fenomena ini tidak 100% bersifat alami. Penyebabnya bersifat terlalu materialistik yang memang terbentuk karena aturan dan sistem kehidupan dunia dewasa ini, yakni kapitalisme. Atau yang orang-orang entertain sering sebut dengan kata “industri”. Sehingga apapun yang dijadikan standar harus mengikuti apapun yang diinginkan “industri”. Dan itu menyebabkan rasa jenuh hingga membuat kaum Hippie atau mereka yang “anti-mainstream” mencari alternatifnya.

Standar-standar yang muncul terdiri dari tren, kebiasaan, status sosial atau bahkan sampai orientasi hidup. Namun terkadang, semua standar ini tidak diam di tempat. Mereka terus bergerak mengikuti arus “industri” (sistem kehidupan kapitalisme), dan sampai akhirnya mengikis nurani –kenormalan– manusia. Mau tidak mau dan suka tidak suka, itu semua sudah teradi sekarang.

Terkikisnya nurani ini juga sudah dinormalkan oleh sebagian besar manusia dewasa ini. Misalnya saja, untuk tetap bisa mengikuti tren yang ada, mereka bisa sampai merusak moral agar dapat eksis. Atau untuk mendapatkan status sosial, mereka perlu menjilat orang-orang terpandang supaya mereka bisa menduduki kelas teratas di masyarakat.

Realitas yang tercipta kemudian dijadikan suatu patokan yang akan melebihi apapun meski itu merupakan suatu kerusakan. Tak dipungkiri hal ini kemudian menggeser serta menghilangkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar manusia itu sendiri seperti agama, budaya atau idealisme. Sampai-sampai mereka yang mengikuti alur tersebut memunculkan alasan bahwa mereka merasa tidak sanggup meninggalkan, atau berdalih cari aman demi kepentingan sendiri sekalipun realitasnya rusak.

Sedangkan mereka yang memilih jalan sebaliknya, yakni para pelawan arus realitas seperti kaum Hippie atau mereka yang “anti-mainstream”, akan mempertahankan prinsip dan nilai dasar manusia walaupun akan dicap berbeda dari mainstream yang masif.

Hanya sayangnya, walau diwajarkan untuk jenuh dan bosan dengan realitas, keluar dari mainstream ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan kerusakan yang terjadi. Apalagi hanya sebatas mengondisikan diri untuk berbeda atau keluar dari realitas yang ada melalui subjektifitas individu. Seperti layaknya yang dulu dilakukan kaum Hippie atau mereka yang ingin jadi “anti-mainstream” hari ini.

Mengikis kebingungan.

Namanya subjektifitas individu, itu berarti tolak ukurnya adalah diri sendiri. Artinya aplikasi dari konsep semacam ini tidak bisa mewakili situasi secara keseluruhan. Sementara realitas yang rusak terjadi secara menyeluruh ke segala penjuru kehidupan manusia. Kondisi semacam itu telah banyak membuat manusia terlena, dan mereka akhirnya memilih cari aman dengan mengikutinya.

Maka ketika kaum Hippie atau mereka yang ingin jadi “anti-mainstream” hanya sebatas mencari alternatif lain dengan subjektifitas individu masing-masing, dan lalu merasa aman dengan pilihannya itu, bukankah esensinya akan sama saja dengan mereka yang mengikuti realitas?

Mungkin kita bisa mengabaikan apa yang sedang terjadi hari ini, dan lebih memilih cari aman demi eksistensi diri kita sendiri. Silahkan saja, karena itu adalah pilihan. Namun dapatkah kita menjamin bahwa eksistensi kita bisa tetap ada ketika kerusakan sedang terjadi di sekitar kita?

Maka ayo kita reduksi bersama kebingungan ini dengan berpikir ulang tentang masalah mendasar yang terjadi sekarang, bahwa segala kejenuhan dan kebosanan serta kerusakan yang kita rasakan dihasilkan oleh sistem kehidupan kapitalisme. Sebuah sistem yang memang bersifat materialistik dan individualistik, yang dapat mendorong manusia hanya berorientasi pada kehidupan dunia yang sempit.

Karena bagaimana tidak, begitulah kehidupan mainstream kita hari ini. Sekalipun tidak sedikit manusia sudah sadar kalau materi bukanlah segala-galanya, namun mereka juga berpikir kalau segala-galanya butuh materi. Sehingga terbentuklah jiwa materialisme dan hedonisme, dan hal inilah yang jadi motivasi kaum Hippie atau mereka yang “anti-mainstream” untuk keluar dari cara berpikir semacam itu.

Mencari alternatif.

Tidak ada yang salah dengan konsep “mencari materi”, pasalnya itu merupakan kebutuhan mendasar manusia yang memang harus dilakukan demi keberlangsungan hidupnya. Namun akan jadi rusak fitrah atau sifat alamiah manusia jika konsep “mencari materi” dijadikan asas, prinsip dan nilai dasar manusia dalam menjalani hidup ini seperti yang –secara langsung maupun tidak langsung– dituntut oleh sistem kapitalisme.

Pada intinya, manusia perlu mencari alternatif sistem kehidupan selain kapitalisme agar mereka dapat dikembalikan lagi kepada fitrah atau sifat alamiahnya. Sehingga nurani ataupun moral manusia tidak lagi digadaikan demi dalih mencari cuan dan eksistensi. Hanya saja alternatif sistem kehidupan ini bukanlah dihasilkan lewat subjektifitas individu sebagai solusi konkrit dari realitas yang rusak persis seperti yang dilakukan kaum Hippie atau mereka yang “anti-mainstream”.

Karena realitas yang rusak akibat sistem kehidupan kapitalisme ini pun berawal dari subjektifitas individu yang mengarahkan manusia untuk memisahkan asas, prinsip dan nilai dasar manusia –khususnya Agama– ke dalam kehidupan. Atau yang biasa disebut dengan sekulerisme. Sehingga sistem kehidupan kapitalisme membebaskan sebagian manusia yang memiliki supremasi (penguasa dan pemerintah) membuat sebuah hukum, kebijakan dan aturan sekalipun itu melanggar asas, prinsip dan nilai dasar manusia.

Mari sedikit kita kembali melihat gambarannya pada industri hiburan. Sadar atau tidak, hari ini industri hiburan semakin vulgar untuk melegitimasi anomali dari segi kebodohan individu sampai perilaku menyimpang dengan dalih “modern” dan menyesuaikan pasar. Pertanyaannya, mengapa industri ini bisa terus berkembang ke arah sana?

Itu karena dasar hukum yang dibuat oleh pemilik supremasi begitu subjektif untuk mengatur dan mengondisikan hal tersebut. Sehingga meski melanggar asas, prinsip dan nilai dasar manusia, itu tidak ada pengaruhnya sama sekali. Karena intrepertasi dasar hukum akan dikembalikan sesuai dengan siapa yang membuat atau yang mengaturnya.

Apalagi ditambah dengan adanya iklan atau promosi yang menguntungkan antara pihak industri dan pemilik supremasi seperti pembayaran pajak atau sejenisnya. Situasi ini akan memperkuat realitas yang rusak, karena seakan-akan keuntungan tersebut jadi syarat legitimasi yang sah. Akibatnya, individu dan masyarakat mau tidak mau dipaksa menerima keadaan tersebut sampai mereka sendiri turut menormalkannya.

Catatan: Industri hiburan dunia disinyalir bernilai sekitar $2+ triliun, dan pertumbuhannya naik sebesar 6,5% pada tahun 2021. Diprediksi akan terus naik mencapai 6,7% pada tahun 2022 karena didorong oleh permintaan yang kuat untuk konten digital dan iklan (sumber: PWC)

Maka bagaimana bisa kita selama ini secara sukarela mengamini sistem kehidupan yang sumbernya dari subjektifitas individu seperti itu?

Kita telah dikungkung oleh realitas rusak yang dihasilkan dari dinamika sistem kehidupan kapitalisme, yang pada akhirnya seolah-olah harus menuntun kita untuk memilih; apakah kita akan mengikutinya sehingga jadi mainstream atau melawannya sehingga jadi “anti-mainstream”. Apakah kita masih mau bertahan? Atau sudah jenuh dan bosan dengan keadaan?

Padahal jika kita mau kembali berbicara soal alternatif, seharusnya kita mulai bertanya; adakah sistem yang lebih baik untuk manusia selain sistem kehidupan kapitalisme?

--

--