Bius Paling Manjur

Resah Gak Sih - Haikal MF
6 min readNov 25, 2021

--

“The point of modern propaganda isn’t only to misinform or push an agenda. It is to exhaust your critical thinking, to annihilate truth” -Gary Kasparov

Sinusitis adalah satu penyakit yang pernah gua idap dan sampai mengharuskan gua menjalani proses operasi. Gua sangat ingat betul bagaimana nasib gua sebelum dan sesudah melewati operasi sinusitis.

Bagi yang pernah mengalaminya, proses operasi memang lumayan membuat risih. Kita sebagai pasien harus ditelanjangi dan diwajibkan memakai pakaian khusus operasi. Lalu kita akan dibaringkan dan mulai diinfus. Setelah itu, untuk step awal sebelum operasi, kita akan dibius dengan dosis tertentu agar tertidur atau kita mungkin dibius setengah sadar untuk menghilangkan rasa sakit pada bagian yang akan dioperasi. Akhirnya kemudian kita akan tidak sadarkan diri dan tidur pulas sampai efek dosis bius tersebut hilang.

Level dan jenis obat bius mungkin berbeda-beda dan akan sangat bergantung pada porsi kegunaannya. Menurut Alodokter, ada tiga macam bius atau anestesi yang memiliki kekhasan masing-masing. Ada bius lokal, bius regional dan bius umum. Bius lokal adalah yang paling rendah levelnya, dan bius umum adalah yang paling tinggi.

Bius lokal hanya memberi efek kepada satu bagian titik yang tidak menghilangkan kesadaran seseorang. Lalu ada bius regional yang sifatnya agak mirip dengan bius lokal, hanya saja efek bius yang diberikan terletak di beberapa bagian titik. Sedangkan bius umum akan membuat seseorang kehilangan kesadarannya secara total, dan ini adalah obat bius yang dipakai saat gua menjalani operasi sinusitis.

Setelah bangun dari tidur pulas atau setelah menjalani proses operasi, menurut gua, ini adalah bagian paling uniknya. Efek obat bius membuat seseorang akan bangun atau tersadar dalam respon yang aneh-aneh. Sejauh yang gua ketahui, khususnya ketika dibius total, ada dua respon –selain efek fisik– yang akan dialami orang setelah operasi. Pertama dia akan melindur, atau yang kedua dia akan menangis.

Nah gua merasakan bagian yang kedua. Dan itu lucu sekali. Tangisan gua tidak berdasar, dan menurut sumber-sumber bacaan yang gua peroleh, itu merupakan hal yang normal karena kita pada dasarnya memang menerima efek samping dari obat bius.

Jadi untuk mendiamkan dan mengontrol seseorang untuk proses operasi, bius umum adalah cara terbaik yang paling manjur untuk membuatnya tidak sadar. Singkatnya, membius secara total akan membuat seseorang akan hilang kesadaran sehingga dia tidak punya kendali atas dirinya sendiri, dan dari situ proses operasi akan berjalan dengan lancar.

Sadar atau tidak, kisah “proses operasi” ini bagi gua memiliki korelasi analogi yang pas untuk melihat berbagai fenomena sosial kita hari ini. Di tengah gempitan era digital yang semakin canggih, terdapat banyak dampak yang secara tidak sadar telah “membius” kehidupan kita.

“Proses operasi” di sini lebih pasnya tergambar pada bentuk-bentuk aktivitas dan kebiasaan kita di masa sekarang. Yang di mana itu memberikan dorongan kepada kita untuk terus-menerus “tidak sadar” dan menganggap apa yang kita jalankan adalah sesuatu yang baik-baik saja. Padahal di sisi lain, “yang kita anggap baik-baik saja” ini sudah menghasilkan kejenuhan, kebodohan atau bahkan sampai tekanan hidup yang besar.

Dosis pada “biusnya” terlalu tinggi, sehingga kita memang benar-benar hilang akal dalam membaca dan menganalisa efek sampingnya. Perlu sebuah ketenangan dan keluar dari zona kebiasaan umum lebih dulu sebagai syarat agar terhindar dari hal-hal yang “membius” akal kita. Itu juga nantinya akan berfungsi agar kesadaran kita tidak hilang layaknya ketika sedang berada dalam proses operasi.

Salah satu “proses operasi” yang paling sering menyelimuti aktivitas orang banyak hari ini adalah memfasilitasi rasa senangnya. Dengan ditambah kecanggihan teknologi, aktivitas semacam ini berhasil meredam fungsi akal sehat. Bius dari aktivitas ini sangatlah banyak. Salah satu yang dosisnya paling tinggi adalah hiburan. Bisa dibilang, hiburan merupakan “bius yang paling manjur” di tengah kehidupan hari ini.

Hiburan hari ini berhasil menjadi satu “cairan bius" yang paling digemari untuk memfasilitasi rasa senang. Sehingga itu pula yang secara otomatis menjadi sebab mengapa sebagian besar orang merasa harus terikat dan harus ketergantungan dengan hiburan. Lambat laun, dari yang tadinya hanya memberikan rasa senang, perlahan kesadaran yang dimiliki oleh seseorang mulai tergerus akibat daya konsumsinya yang semakin besar.

Tidak dapat disangkal bahwa hiburan juga bisa sampai mereduksi kenormalan manusia demi kepuasan rasa senang yang instan. Arah dari asumsi ini mudah sekali dibaca dan bisa dilihat di berbagai platform digital yang masif penggunaannya saat ini seperti Instagram, TikTok, YouTube dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya menjalar dari sebuah tren yang membuahkan adiksi.

Bagaimana skema hiburan dapat membius benak banyak orang dewasa ini?

Jika kita mau melihat kembali ke dalam proses operasi pada umumnya, subjek (orang yang akan dioperasi) akan dibuat tenang dengan obat bius (baik yang dosis rendah maupun tinggi) sehingga dia tidak sadarkan diri dan tertidur pulas. Ini merupakan analogi standar yang bisa dijadikan parameter dasar dalam menilai apakah proses operasi itu bisa berjalan lancar atau tidak. Singkatnya, bius yang disuntikan harus mampu memberikan efek kepada subjek untuk “tidak sadarkan diri”.

Pada dasarnya hiburan juga memainkan pola serupa dalam membius seseorang yang sedang ingin memfasilitasi rasa senangnya (baca: proses operasi). Hiburan memberikan kenyamanan berlebih. Sehingga, menurut Noam Chomsky di dalam bukunya yang berjudul How The World Works, manipulasi kenyamanan ini sangat efektif untuk disusupi propaganda dan indoktrinasi yang nantinya akan mencabut kesadaran orang-orang atas dasar hak dan sejarah hidup mereka sendiri.

Ketika hiburan mulai masuk ke dalam pikiran –layaknya obat bius yang disuntikan ke dalam tubuh seseorang–, potensi berpikir manusia (kesadaran) perlahan-lahan mulai tereduksi. Hiburan membuat seseorang terlelap dalam kesenangan, sehingga akal sehat dibuat sulit untuk kritis terhadap persoalan.

Yang seharusnya orang lebih sadar terhadap hal-hal yang penting bagi hidupnya, namun kepentingan itu tergeser oleh rasa senang instan yang membuat dirinya teralihkan. Minimalnya, dia tidak memiliki kepekaan terhadap kontrol-kontrol dari luar dirinya sendiri yang sebenarnya sedang menguasai kehidupannya.

Menurut Chomsky, sistem propaganda hari ini bukan saja akan diimplementasikan melalui isu-isu yang dikemas dalam berita, tetapi sistem ini ada dan bahkan dipresentasikan dalam bentuk hiburan di media –dan platform sosial media tentunya. Pun ternyata, hiburan ini ditampilkan dengan tujuan untuk mengalihkan para penonton atau pengonsumsinya dari kenyataan, dan membuat mereka lebih bodoh, acuh dan apatis.

Dorongan yang diberikan oleh hiburan akan menstimulus rasa senang untuk keluar. Sehingga “proses operasi” berjalan dengan lancar. Bius itu masuk dengan mudah dan membuat rasa senang semakin besar sampai akhirnya kesenangan itu menutup akal sehatnya –sebagai instrumen utama dalam berpikir.

Orang menjadi buta terhadap realita dan terjerembab dalam dekapan kebahagiaan semu layaknya efek samping dari obat bius di dalam proses operasi (melindur atau menangis). Pola pikir menjadi sempit, nurani semakin hilang, dan buah dari nafsu manusia yang meronta-ronta terpampang di mana-mana. Sebagian besar orang menjadi bingung dan bahkan mulai tidak sadar kalau apa yang dilakukannya merupakan suatu kebodohan.

Salah satu referensi untuk melihat dampak bius hiburan: JoeyBToonz (YouTube)

Dengan begitu, output terakhir yang jauh lebih parah lagi adalah orang akhirnya kesulitan memahami hal-hal yang rumit atau hal-hal yang perlu pembelajaran seperti ilmu. Otaknya sukar diajak berpikir mendalam karena telah terbiasa mengkonsumsi hal-hal praktis di dalam hiburan. Ini sejalan dengan ungkapan salah satu pakar sejarah Islam yakni Ustadz Budi Ashari, yang mengatakan bahwa memang pada kenyatannya “hiburan dan ilmu tidak akan pernah sejalan”.

Tapi sekali lagi, semua kerancuan dan kebodohan sebagian besar orang yang banyak terpampang hari ini merupakan dampak atau akibat dari bius hiburan. Sedangkan kecenderungan ingin memfasilitasi rasa senang adalah pengikat yang menjadi sebab akan kebutuhan hiburan itu sendiri.

Pada hakikatnya tidak ada yang salah ketika orang menginginkan hiburan untuk memfasilitasi rasa senang. Karena manusia memang punya nafsu (perasaan) yang perlu dipuaskan. Namun ketika hal ini dijadikan dasar dalam melakukan setiap aktivitas kehidupannya, itu akan membuahkan berbagai masalah.

Manusia adalah makhluk unik yang kompleks. Mengatur manusia adalah hal yang paling sulit karena mereka memiliki dorongan untuk terus memberontak jika aturan yang diterapkan padanya tidak memuaskan akal atau nafsunya (perasaan). Dua hal ini (akal dan nafsu) adalah sumber terkuat dorongan manusia untuk berbuat. Jika akal mendominasi, manusia akan menguasai nafsunya dan menjadikan akal sebagai alat utama dalam menjalankan perbuatan, dan begitu pun sebaliknya.

Sayangnya, nafsu bukanlah instrumen yang tepat untuk dijadikan dasar dalam menjalani kehidupan. Memuaskan hawa nafsu hanya akan menjadikan manusia mirip seperti hewan. Bahkan bisa berpotensi lebih buruk daripada hewan seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an Q.S Al-A’raf (179): “…Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi…”

Sebuah keniscayaan bahwa manusia membutuhkan rasa senang. Kendati pun hal ini difasilitasi melalui hiburan. Namun menjadikan rasa senang sebagai dasar sekaligus pendorong manusia berbuat atau memilih sesuatu di dalam kehidupannya merupakan sumber datangnya kecelakaan serta kenistaan. Manusia memiliki akal yang tidak dimiliki oleh hewan. Maka akal lebih utama untuk dijadikan instrumen dalam kehidupan. Akal ini juga jauh lebih membawa manusia ke dalam keselamatan hidup ketimbang hawa nafsunya.

Walaupun pada titik tertentu, akal ini akhirnya harus bersanding dengan sebuah aturan yang hakiki. Aturan yang datang dari sang Pencipta, yang dapat mengatur setiap manusia dari aspek individu hingga Negara, untuk menghilangkan relatifitas yang bersumber dari akal manusia itu sendiri. Sehingga manusia dapat hidup dengan tenang, dan hakikat serta kehormatan manusia terjaga dari potensi menjadi “hewan ternak” atau bahkan yang lebih hina daripada itu.

Sekali lagi, hiburan bukanlah sesuatu yang dilarang. Setiap manusia juga punya hak untuk menghibur dirinya. Hanya saja, semua ada porsi dan batasannya. Layaknya bius yang memiliki dosis di dalam aturan pemakaiannya.

--

--